Minggu, 30 Oktober 2011

Study Kasus dengan Fleksibilitas Gaya Belajar dan Pembelajaran

Inovasi pembelajaran merupakan hal yang sangat penting untuk mendukung kemajuan di bidang pendidikan. Inovasi pembelajaran merupakan penyempurnaan dari sistem, model dan metode-metode pembelajaran yang terdahulu, yang dapat kita ambil sisi baiknya dan direvisi sisi buruknya. Berbagai ide-ide banyak yang muncul yang telah disumbangkan kedalam inovasi pembelajaran sehingga terciptalah manufer-manufer terbaru dalam dunia pendidikan yang diarahkan guna mengoptimalkan proses dan hasil belajar peserta didik.

Peserta didik diarahkan agar menjadi pribadi yang kritis, kreatif dan problem solver. Banyak metode-metode yang bertujuannya mengarahkan anak ke tahap itu, namun perlu banyak penyempurnaan lagi.

Nah, disini ide yang akan saya turut sumbangkan dalam inovasi pembelajaran yaitu sebagai seorang guru kita dapat menggunakan cara belajar Study Kasus dengan Fleksibilitas Gaya Belajar dan Pembelajaran.

Study kasus dengan fleksibilitas gaya belajar dan pembelajaran merupakan suatu pembelajaran dengan belajar menggunakan studi kasus, siswa diberikan suatu masalah atau kasus, mereka dilatih untuk mengidentifikasi kasus tersebut dan mencari jalan keluar terbaik untuk masalah tersebut namun dengan caranya sendiri dan dengan gaya belajar yang mereka sukai. Banyak pembelajar yang kelihatannya apatis akan menjadi lebih antusias ketika pembelajaran disampaikan dan dilakukan dalam gaya yang lebih mereka sukai. Dengan memberikan variasi yang terus menerus dan memaparkan kepada para pembelajar dengan berbagai macam gaya pembelajaran, paparan tersebut akan membantu mereka menjadi pembelajar yang fleksibel. Kita juga dapat menciptakan opsi bagi pembelajar supaya mereka terberdayakan untuk belajar secara efektif dan efisien dengan gaya yang lebih mereka sukai. Dengan begitu dalam prosesnya mencari jalan keluar dari masalah yang diberikan kepada mereka, peserta didik akan mengalami masa dimana mereka harus berpikir kritis dan keras untuk menemukan solusi dari kasus yang mereka terima. Secara tidak langsung otak mereka akan terberdayakan kreatifitasnya untuk mengatasi masalah.

Penerapan study kasus dengan fleksibilitas gaya belajar dan pembelajaran ini sebagai contoh misalnya dengan langkah-langkah sebagai guru kita harus memulai kelas dengan cara yang menimbulkan gairah belajar bagi anak didik, misalnya dengan menanyakan kabar mereka hari ini, menciptakan suasana kelas senyaman mungkin dan tidak membosankan, bernyayi bersama sebagai pengantar ke dalam materi yang akan diajarkan hari itu, berusaha seramah mungkin dengan anak didik. Hal-hal tersebut akan membangkitkan pikiran-pikiran positif di benak peserta didik. Kemudian masuk ke dalam materi, peserta didik dibebaskan mencari dan menerima materi yang akan diajarkan (misalnya, ketika pelajaran IPA peserta didik dapat belajar dan mencari inofrmasi mengenai tumbuhan dengan metode eksperimen bagi peserta didik yang menyukai metode ini, maupun dengan diskusi dengan teman yang memiliki gaya belajar diskusi juga, dsb) kemudian memberikan masalah kepada peseta didik (mengapa tumbuhan tidak berpindah tempat, apakah tumbuhan dapat menerima rangsang dan masalah-masalah lainnya), mereka akan mencari dan menjawab masalah-masalah tersebut dengan cara dan gaya belajar yang mereka sukai hingga mereka akan berkreatif menemukan solusi yang memuaskan curiousity atau rasa ingin tahu mereka.

Study kasus dengan fleksibilitas gaya belajar dan pembelajaran ini cocok diterapkan kapan saja dengan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Pembelajaran seperti ini sesuai untuk anak SD baik itu SD kota maupun SD pinggiran. Terutama pada kelas-kelas tinggi seperti kelas IV, V, dan VI. Pembelajaran ini patut diterapkan karena dapat memacu kreatifitas, kemandirian siswa menyelesaikan masalah dan berpikir kritis sebagai seorang problem solver.

Pembelajaran yang seperti ini juga memiliki kekurangan. Karena apabila pembelajaran seperti ini diterapkan, guru harus mencurahkan perhatiannya sepenuhnya kepada masing-masing individu karena tentunya gaya belajar siswa satu dengan yang lainnya berbeda dan semua peserta didik juga membutuhkan bimbingan dari guru, jadi mungkin akan memakan banyak waktu dan biaya kerena menuntut peralatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas untuk memenuhi gaya belajar dari setiap masing-masing siswa. Dan pembelajaran seperti ini akan memanjakan siswa yang malas menerima dan menyelesaikan tugas, karena mereka merasa diberi kebebasan dalam menyelesaikan tugas dan mereka bisa semaunya sendiri dalam mengerjakan tugas. Pada intinya siswa yang malas akan semakin malas karena adanya kebebasan dalam belajar.

Akan tetapi menurut saya pembelajaran seperti ini memiliki juga banyak kelebihan, pembelajar akan dengan senang hati menerima materi dan tugas karena mereka diberi kebebasan untuk menyelesaikannya dengan gaya belajar yang mereka kuasai namun dapat melatih otak mereka untuk berfikir secara kritis dan kreatif tanpa rasa tertekan dan keterpaksaan. Pembelajaran seperti ini juga dapat membuat siswa terpusat perhatiaanya pada objek materi yang diajarkan, siswa dapat mengembangkan kemampuan dan bakatnya dalam menyelesaikan masalah. Maka nantinya diharapkan dengan begitu akan mencapai hasil yang maksimal. Selain itu juga diantara guru dan siswa dan siswa dengan siswa dapat tercipta hubungan saling mengharagai gaya belajar dan pembelajaran masing-masing.

0 komentar:

Poskan Komentar